Kado Tahun Baru 2026: Harga BBM Non-Subsidi di Kalimantan Resmi Melandai

featured-image

Ilustrasi

KALTIMWARA.COM - BALIKPAPAN – Mengawali lembaran baru di tahun 2026, PT Pertamina (Persero) memberikan kabar baik bagi para pengendara di seluruh penjuru Kalimantan. Terhitung mulai Kamis, 1 Januari 2026, harga sejumlah jenis Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi resmi mengalami penyesuaian harga ke bawah atau turun, mengikuti tren pasar minyak dunia dan kebijakan pemerintah terbaru.

 

Langkah ini diambil sebagai bentuk implementasi Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM No. 245. K/MG.01/MEM.M/2022. Penurunan harga ini mencakup varian produk unggulan seperti Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite, hingga Pertamina Dex. Kebijakan ini diharapkan dapat meringankan beban biaya transportasi masyarakat di awal tahun, terutama di wilayah yang memiliki tantangan logistik seperti Kalimantan.

 

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Heppy Wulansari, dalam keterangan resminya mengungkapkan bahwa evaluasi harga dilakukan secara berkala. "Penyesuaian harga ini merupakan komitmen kami untuk menyediakan energi dengan harga yang kompetitif bagi masyarakat, namun tetap menjaga keberlanjutan pasokan di seluruh pelosok negeri," ujarnya pada Kamis (1/1/2026).

 

Untuk wilayah Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah, harga Pertamax (RON 92) kini dibanderol seharga Rp 12.650 per liter. Sementara itu, bagi pengguna kendaraan bermesin diesel, harga Dexlite turun menjadi Rp 13.800 per liter dan Pertamina Dex berada di angka Rp 13.900 per liter. Harga ini sedikit berbeda dengan wilayah Jawa karena adanya pengaruh komponen biaya distribusi.

 

Di sisi lain, masyarakat di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Utara mendapati harga yang sedikit lebih tinggi dibandingkan provinsi tetangganya. Di kedua wilayah ini, Pertamax dipatok seharga Rp 12.950 per liter, sedangkan Pertamax Turbo dijual Rp 14.000 per liter. Perbedaan ini merupakan hal yang lumrah dalam struktur harga BBM yang dipengaruhi oleh Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) di masing-masing daerah.

 

Meski lini non-subsidi mengalami penurunan, Pertamina memastikan bahwa harga BBM bersubsidi jenis Pertalite dan Biosolar tidak mengalami perubahan sama sekali. Pertalite tetap dijual dengan harga seragam di seluruh Indonesia, yakni Rp 10.000 per liter, begitu pula dengan Biosolar yang tetap bertahan di angka Rp 6.800 per liter demi menjaga daya beli masyarakat menengah ke bawah.

 

Pihak Pertamina menegaskan bahwa stok BBM di seluruh SPBU wilayah Kalimantan dalam kondisi aman selama periode pergantian tahun ini. Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan panic buying dan tetap menggunakan BBM yang sesuai dengan spesifikasi mesin kendaraan agar performa mesin tetap optimal dan lebih ramah lingkungan.

 

"Kami terus memantau pergerakan harga minyak mentah dunia dan nilai tukar rupiah untuk menentukan harga yang paling tepat bagi konsumen di bulan-bulan berikutnya," pungkas Heppy. Dengan adanya penurunan harga ini, diharapkan denyut nadi ekonomi di Pulau Borne dapat semakin kencang, terutama dalam menopang distribusi logistik antarprovinsi.(kw/ecy)