Riset UI : 45 Ribu Lulusan S1 dan 6 Ribu Lebih Lulusan S2-S3 Nganggur

Putus Asa Cari Kerja

featured-image

istimewa

KALTIMWARA.COM - SAMARINDA - Sebuah kenyataan pahit menyeruak di tengah ambisi Indonesia mencetak sumber daya manusia unggul. Berdasarkan riset terbaru dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB UI yang dirilis pada Kamis, 11 Desember 2025, ditemukan fenomena mencemaskan di pasar tenaga kerja nasional. Tak lagi didominasi oleh lulusan pendidikan rendah, rasa putus asa dalam mencari pekerjaan kini mulai menjangkiti mereka yang menyandang gelar sarjana hingga doktor.

 

Data yang diolah dari Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) BPS menunjukkan bahwa sebanyak 45 ribu lulusan S1 kini berada dalam kondisi "putus asa" mencari kerja. Angka yang tidak kalah mengejutkan muncul dari jenjang pascasarjana, di mana lebih dari 6.000 lulusan S2 dan S3 dilaporkan telah menyerah dan berhenti mencari nafkah karena merasa peluang bagi mereka telah tertutup rapat.

 

Kondisi ini menandakan adanya pergeseran psikologis yang signifikan di pasar kerja. Per Februari 2025, jumlah penduduk yang putus asa mencari kerja secara total mencapai 1,87 juta orang, meningkat dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 1,68 juta orang. Mereka bukan lagi sekadar pengangguran terbuka yang aktif mencari kerja, melainkan kelompok yang sudah "angkat tangan" terhadap sistem ekonomi yang ada.

 

Peneliti LPEM FEB UI, Muhammad Hanri, Ph.D., menekankan bahwa fenomena ini adalah sinyal bahaya bagi struktur ketenagakerjaan kita. "Meski proporsinya kecil dibanding total angkatan kerja, keberadaan mereka memperlihatkan hambatan struktural yang tidak tertangkap indikator konvensional seperti tingkat pengangguran terbuka," jelas Hanri dalam laporan resminya. Hal ini membuktikan bahwa pendidikan tinggi bukan lagi "jimat" yang ampuh untuk menangkal pengangguran.

 

Faktor penyebab keputusasaan ini sangat kompleks dan beragam. Bagi lulusan S1 hingga S3, hambatan utama bukan lagi soal buta huruf atau keterampilan dasar, melainkan ketidaksesuaian (mismatch) antara keahlian yang dimiliki dengan kebutuhan industri. Selain itu, ekspektasi upah yang tidak bertemu dengan tawaran pemberi kerja menjadi dinding besar yang sulit ditembus oleh para pemegang gelar tinggi tersebut.

 

Tak hanya soal kompetensi, diskriminasi usia juga menjadi momok bagi para pencari kerja. Banyak lulusan pascasarjana yang baru menyelesaikan studi di usia matang merasa tersisih karena perusahaan lebih cenderung mencari tenaga kerja muda dengan gaji yang lebih rendah. Hal ini menciptakan persepsi bahwa pengalaman dan gelar akademik tinggi justru menjadi beban dalam proses rekrutmen.

 

Nia Kurnia Sholihah, M.E., yang juga peneliti LPEM FEB UI, menambahkan bahwa kelompok ini sering kali terabaikan dalam kebijakan pemerintah. "Fenomena ini mengindikasikan titik-titik di mana sistem pendidikan, pelatihan, dan layanan ketenagakerjaan gagal memberikan jalur masuk yang kredibel ke pasar kerja," tulisnya. Tanpa intervensi yang tepat, potensi intelektual puluhan ribu lulusan ini akan terbuang sia-sia.

 

Laporan ini menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan dan pembuat kebijakan. Diperlukan sinkronisasi massal antara kurikulum perguruan tinggi dengan realita pasar kerja agar gelar akademik tidak sekadar menjadi lembaran kertas tanpa nilai ekonomi. Jika tidak segera diatasi, angka 45 ribu sarjana yang menyerah ini hanyalah puncak gunung es dari krisis kepercayaan terhadap masa depan ekonomi Indonesia.(kw/ecy)