Ternyata Ini Pekerjaan Impian Gen Z

featured-image

Ilustrasi

KALTIMWARA.COM - SAMARINDA - Era baru dalam pasar kerja global mulai menunjukkan pergeseran prioritas yang signifikan seiring dengan masuknya Generasi Z ke dalam angkatan kerja. Berdasarkan riset terbaru mengenai tren karier masa depan, generasi yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012 ini tidak lagi memandang jabatan tinggi atau gaji besar sebagai satu-satunya tolok ukur kesuksesan. Sebaliknya, mereka lebih mendambakan keseimbangan kehidupan kerja yang sehat dan fleksibilitas yang nyata.

 

Pada laporan yang dirilis per Desember 2025, terlihat bahwa pekerjaan di bidang kreatif dan teknologi tetap mendominasi daftar keinginan Gen Z. Namun, ada satu benang merah yang menyatukan berbagai pilihan karier tersebut: kemampuan untuk bekerja secara remote atau hibrida. Bagi Gen Z, kebebasan untuk mengatur waktu dan lokasi kerja bukan lagi sebuah kemewahan, melainkan suatu kebutuhan dasar dalam memilih perusahaan.

 

Pekerjaan seperti content creator, spesialis media sosial, pengembang perangkat lunak, hingga analis data menjadi primadona. Hal ini dipicu oleh karakter mereka yang merupakan digital natives, yang merasa lebih produktif ketika didukung oleh ekosistem digital yang canggih. Mereka mencari peran yang memungkinkan kreativitas mengalir tanpa hambatan birokrasi kantor yang kaku.

 

Selain aspek fleksibilitas, Gen Z juga sangat peduli pada nilai-nilai yang diusung oleh pemberi kerja. Mereka cenderung memilih perusahaan yang memiliki tanggung jawab sosial dan komitmen terhadap isu lingkungan. Karier yang memiliki dampak positif bagi masyarakat menjadi daya tarik tersendiri, membuat mereka merasa bahwa pekerjaan mereka memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar rutinitas harian.

 

Kecenderungan ini pun diamati oleh para praktisi pendidikan dan karier. Dr. Rifa Zahrah, seorang pengamat pendidikan dari Universitas Gadjah Mada, menjelaskan bahwa kurikulum saat ini harus mulai beradaptasi dengan ekspektasi generasi baru tersebut agar lulusan perguruan tinggi tetap relevan dengan kebutuhan industri yang terus berubah.

 

"Gen Z saat ini lebih mengutamakan work-life balance dan fleksibilitas. Mereka tidak ingin terikat pada jam kerja konvensional 9-to-5 di kantor. Mereka ingin bekerja dari mana saja asalkan target tercapai dan kesehatan mental mereka tetap terjaga," ujar Dr. Rifa Zahrah dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (23/12/2025).

 

Lebih lanjut, riset tersebut juga menyoroti bahwa banyak dari anggota Gen Z yang bercita-cita menjadi pengusaha atau freelancer. Keinginan untuk menjadi "bos bagi diri sendiri" muncul karena adanya ketidakpastian ekonomi global, yang membuat mereka merasa lebih aman jika memiliki kendali penuh atas sumber pendapatan mereka melalui berbagai aliran penghasilan atau side hustles.

 

Sebagai penutup, fenomena ini menjadi tantangan besar bagi perusahaan-perusahaan besar untuk merombak budaya kerja mereka. Jika ingin menarik talenta muda terbaik, sektor korporasi harus mampu menawarkan lingkungan kerja yang suportif, transparan, dan tentunya memberikan ruang bagi fleksibilitas yang selama ini menjadi impian besar Generasi Z.(kw/ecy)