Spesies Elang-Kuak Baru Ditemukan di Pegunungan Borneo
Istimewa
KALTIMWARA.COM - Sebuah terobosan besar dalam dunia ornitologi kembali mencatatkan nama Kalimantan di peta sains dunia. Para peneliti berhasil mengidentifikasi spesies baru burung elang-kuak yang selama ini tersembunyi di balik rimbunnya hutan pegunungan Borneo. Burung yang diberi nama ilmiah Hierococcyx tiganada ini menjadi bukti bahwa kekayaan hayati Indonesia masih menyimpan misteri yang belum terpecahkan sepenuhnya.
Penemuan ini bermula dari tantangan taksonomi yang telah berlangsung lama. Secara visual, Hierococcyx tiganadasangat mirip dengan kerabat dekatnya, elang-kukuk besar (H. sparverioides) dan elang-kukuk gelap (H. bocki). Kemiripan fisik yang ekstrem ini membuat para ahli selama puluhan tahun kesulitan membedakan mereka hanya berdasarkan pengamatan bulu atau morfologi luar semata.
Namun, kunci rahasia identitas spesies ini ternyata bukan terletak pada apa yang terlihat, melainkan pada apa yang terdengar. Tim peneliti yang dipimpin oleh Dr. Frank Rheindt dari National University of Singapore menggunakan pendekatan bioakustik untuk membedah perbedaan spesies tersebut. Melalui analisis mendalam terhadap 107 rekaman vokalisasi, ditemukan bahwa burung ini memiliki pola suara unik yang membedakannya secara tegas dari spesies lain.
"Perkembangan taksonomi modern, terutama sejak tahun 1990-an, menunjukkan bahwa karakter bioakustik atau suara memegang peran kritis dalam menentukan batas spesies," ujar Dr. Frank Rheindt dalam keterangannya terkait metodologi penelitian integratif yang mereka terapkan untuk mengungkap "spesies tersembunyi" ini.
Selain analisis suara, tim peneliti juga mengkaji spesimen museum dan melakukan pengukuran morfometrik yang teliti. Hasilnya memperkuat temuan bahwa H. tiganada merupakan entitas yang terpisah secara evolusi. Temuan ini telah resmi diterbitkan dalam Jurnal Ornitologi Asia pada September 2025, menambah daftar anggota genus Hierococcyx yang kini berjumlah sepuluh spesies di seluruh Asia.
Pemberian nama "tiganada" sendiri merujuk pada karakteristik suaranya yang khas. Penemuan ini sekaligus mengonfirmasi bahwa distribusi spesies ini terkonsentrasi di wilayah hutan pegunungan Sundaland, khususnya di Kalimantan. Hal ini mempertegas nilai biogeografis pulau tersebut sebagai pusat endemisme yang sangat penting bagi konservasi burung dunia.
Dr. Frank Rheindt menekankan bahwa metode integratif ini adalah masa depan penelitian keanekaragaman hayati. Beliau menjelaskan, "Analisis vokalisasi sering kali mengungkap keberadaan spesies tersembunyi yang tidak terlihat perbedaannya secara visual, menegaskan pentingnya penelitian bioakustik dalam mengungkap keanekaragaman hayati yang masih tersembunyi."
Sebagai penutup, kehadiran Hierococcyx tiganada menjadi pengingat bagi pemerintah dan masyarakat akan pentingnya menjaga hutan pegunungan Kalimantan. Di tengah ancaman hilangnya habitat, penemuan spesies baru ini memberikan harapan sekaligus tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa suara "tiga nada" ini akan terus terdengar di langit Borneo untuk generasi mendatang. (kw/ass/ecy)