Navigasi Kesehatan Mental: Penerapan Mindfulness untuk Menghadapi Laju Berita Buruk
Ilustrasi meditasi mindfulness. (Istockphoto/miodrag ignjatovic)
KALTIMWARA.COM - Arus informasi yang mengalir tanpa henti di era digital kerap membawa kabar duka, konflik, hingga berbagai fenomena negatif yang dapat memicu tekanan emosional secara mendadak. Menghadapi gempuran berita buruk (doomscrolling) yang berpotensi merusak ketenangan mental, metode mindfulness atau kesadaran penuh kini banyak direkomendasikan sebagai mekanisme pertahanan diri yang efektif.
Praktik mindfulness bekerja dengan cara melatih individu untuk hadir secara utuh pada momen saat ini tanpa memberikan penilaian berlebih (non-judgmental). Dalam konteks konsumsi media, pendekatan ini membantu seseorang mengenali respons emosional tubuh saat terpapar kabar buruk sebelum respons tersebut berubah menjadi kecemasan berlebih.
Banyak orang secara tidak sadar terjebak dalam siklus mengonsumsi berita negatif secara terus-menerus karena dorongan rasa ingin tahu atau kekhawatiran tertinggal informasi. Padahal, paparan stresor visual dan teks secara berkelanjutan dapat memicu sekresi hormon kortisol yang berdampak buruk bagi sistem saraf.
Penerapan kesadaran penuh bukan berarti mengajak seseorang untuk acuh tak acuh atau melarikan diri dari kenyataan yang sedang terjadi di dunia luar. Sebaliknya, metode ini mengajarkan batas yang sehat antara tetap mendapatkan informasi (stay informed) dan menjaga jarak emosional agar tidak kewalahan (overwhelmed).
Pakar psikologi klinis dan kesehatan mental, Dr. Maya Kartika, M.Psi., menjelaskan bahwa kecerdasan dalam mengatur konsumsi media merupakan kunci utama dalam menjaga keseimbangan kesehatan jiwa di tengah gempuran informasi modern.
"Praktik mindfulness saat membaca berita membantu kita jeda sejenak dan mengamati reaksi tubuh. Ketika dadamu terasa sesak atau pikiran mulai cemas akibat berita buruk, mindfulness memberi ruang untuk menarik napas dalam-dalam, mengakui emosi tersebut, lalu memutuskan secara sadar apakah kita perlu berhenti sejenak dari layar," terang Dr. Maya Kartika dalam keterangannya hari ini.
Beberapa langkah praktis yang dapat diterapkan mencakup penetapan batasan waktu harian untuk mengakses media sosial atau portal berita, mematikan notifikasi berita berkala, serta melakukan teknik pernapasan sederhana saat emosi mulai terganggu.
Melalui pendekatan yang sadar dan terukur, masyarakat diharapkan dapat menyikapi dinamika informasi global dengan lebih bijak tanpa mengorbankan ketenangan batin. Dr. Maya Kartika menyarankan agar kebiasaan ini dilatih secara konsisten. "Menjaga kesehatan mental bukan berarti menutup mata dari realitas, melainkan memilih untuk merespons informasi secara bijak demi menjaga kapasitas diri agar tetap berdaya dan berempati," pungkasnya.(kw/ecy)